Rabu, 18 April 2012

Berhati-hati Terhadap Kehidupan


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum, Wr.Wb
Innal hamdalillah nahmatuhu wanasta’inuhu wanastaghfiru wa naudzubillahi min sururi amfusina wa min syayiati a’malina mayyahdillahu fala mudzilalah wa mayyudlilhu fala hadziyyalah.


Asyhaduala illa ha ilallah wa asyhaduana muhammadan abduhu warusuluh.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat serta hidayah-Nya sehingga pada kali ini kita bisa bertemu dan berkumpul disini tanpa kurang suatu apapun. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpah curahkan pada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarganya, tabi’in, tabi’ut tabi’in yang telah memperjuangkan diin islam ini.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menjadi da’I sekaligus motivator, terlepas dari itu sebenarnya saya disini ingin mengajak teman-teman semuanya untuk sejenak merenung mengenai kehidupan kita yang sudah kita jalani selama ini. Tema yang akan saya sampaikan kali ini adalah “Berhati-Hatilah Terhadap Kehidupan”.
 Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
 Dahulu kala ada seorang kaisar memerintahkan kepada penunggang kuda untuk menunggang kuda sejauh mana yang ia sukai kemudian kaisar akan menghadiahkan kepadanya daerah yang berhasil ia telusuri. Tentu saja si penuggang kuda tersebut langsung melompat naik keatas kudanya dan langsung memacu kudanya dengan cepat untuk menjelajah daerah yang seluas mungkin. Ia terus memecut kudanya untuk terus berlari secepat mungkin meski lapar dan lelah, singkat cerita sampailah si penunggang berhasil menjangkau daerah yang sangat luas namun perbuatannya itu mengakibatkan ia sangat lelah dan tidak mampu lagi mempertahankan nyawanya. Dalam keadaan yang sekarat kemudian si penunggang kuda ini merenung “Mengapa aku memaksa diriku begitu keras padahal sekarang aku hanya membutuhkan sebidang tanah kecil untuk mengubur diriku.

Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Cerita ini seperti yang kita lihat pada kebanyakan manusia sekarang mereka begitu kerasnya mencari dunia dan lebih mencintai dunia, padahal ketika kita mati yang kita bawa bukanlah harta dunia kita namun bagaimana amal soleh kita didunnia.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Rasulullah pernah mengatakan “ Jadilah engkau didunia seperti layaknya orang yang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat saja” (HR. Bukhori) disini kita bisa lihat rasulullah mengingatkan kita untuk menjadi orang yang jangan terlalu cinta akan dunia karena dunia ini hanya sementara ada kehidupan lain setelah didunia ini yang jauh lebih kekal bagi yang mengimani.
Rasulullah juga pernah berkata “ tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang diantara kalian mencelupkan jari telunjuk kalian kedalam lautan yang luas, kemudian kalian angkat dan apa yang menetes dari ujung jari telunjuk itu adalah kenikmatan dunia dan hamparan laut yang luas itu adalah kenikmatan di akhirat” (HR.Muslim) jika kita mau merenungkan ayat ini maka aneh sekali ketika kita mau menjual akhirat kita hanya untuk kenikmatan dunia yang sifatnya sementara apalagi sampai menyepelekan akhirat naudzubillah min dzalik.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Bukan berarti kita tidak boleh mencari dunia, namun jadikanlah dunia ini ibaratnya tempat kita mencari bekal untuk akhirat kita. Selama ini paradigm orang sudah berubah ketika dulu Rasulullah SAW mengatakan “carilah akhiratmu namun jangan lupakan duniamu karena ketika kita mencari akhirat dunia akan mengikuti. Tapi sekarang menjadi carilah duniamu namun jangan lupakan akhiratmu. Sehingga orang sekarang orientasi utamnaya adalah dunia bukan akhirat.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Cinta dunialah yang memakmurkan neraka dengan dipenuhi para pelakunya. Mabuk karena cinta dunia lebih berbahaya daripada mabuk karena alcohol karena mabuk yang diakibatkan karena cinta dunia hanya akan tersadar ketika ia dalam kegelapan kubur.
Yahya bin Muadz berkata, “ dunia itu anak setan. Barang siapa mabuk karenanya niscaya tidak akan sadar sampai ia berada diantara orang-orang yang sudah mati, menyesal bersama orang-orang yang merugi.
Paling tidak dunia itu akan melengahkan seseorang dari berdzikir dan mengingat Allah sebagaiman dalam firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman , janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Al-Munafiqun [63] : 9)
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi semua orang dunia ini adalah tamu, dan harta adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan setiap pinjaman pasti harus dikembalikan.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Mungkin itu yang dapat saya sampaikan semoga kita menjadi orang yang lebih baik lagi dalam menyikapi dunia ini. Apabila ada salahnya saya mohon maaf dan itu murni dari diri saya dan apabila ada baiknya itu murni datangnya dari Allah.terimaksih atas perhatiaanya.
Wassalamualaikum Vr.Wb

0 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Posting Komentar