Assalamualaikum, Wr.Wb
Innal hamdalillah nahmatuhu wanasta’inuhu wanastaghfiru wa
naudzubillahi min sururi amfusina wa min syayiati a’malina mayyahdillahu fala
mudzilalah wa mayyudlilhu fala hadziyyalah.
Asyhaduala illa ha ilallah wa asyhaduana muhammadan abduhu warusuluh.
Asyhaduala illa ha ilallah wa asyhaduana muhammadan abduhu warusuluh.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat
Allah SWT berkat limpahan rahmat serta hidayah-Nya sehingga pada kali ini kita
bisa bertemu dan berkumpul disini tanpa kurang suatu apapun. Shalawat serta
salam semoga tetap terlimpah curahkan pada junjungan kita nabi besar Muhammad
SAW, beserta keluarganya, tabi’in, tabi’ut tabi’in yang telah memperjuangkan
diin islam ini.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba menjadi da’I
sekaligus motivator, terlepas dari itu sebenarnya saya disini ingin mengajak
teman-teman semuanya untuk sejenak merenung mengenai kehidupan kita yang sudah
kita jalani selama ini. Tema yang akan saya sampaikan kali ini adalah
“Berhati-Hatilah Terhadap Kehidupan”.
Saudara-saudaraku
yang di rahmati Allah
Dahulu kala ada
seorang kaisar memerintahkan kepada penunggang kuda untuk menunggang kuda
sejauh mana yang ia sukai kemudian kaisar akan menghadiahkan kepadanya daerah
yang berhasil ia telusuri. Tentu saja si penuggang kuda tersebut langsung melompat
naik keatas kudanya dan langsung memacu kudanya dengan cepat untuk menjelajah
daerah yang seluas mungkin. Ia terus memecut kudanya untuk terus berlari
secepat mungkin meski lapar dan lelah, singkat cerita sampailah si penunggang
berhasil menjangkau daerah yang sangat luas namun perbuatannya itu
mengakibatkan ia sangat lelah dan tidak mampu lagi mempertahankan nyawanya.
Dalam keadaan yang sekarat kemudian si penunggang kuda ini merenung “Mengapa
aku memaksa diriku begitu keras padahal sekarang aku hanya membutuhkan sebidang
tanah kecil untuk mengubur diriku.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Cerita ini seperti yang kita lihat pada kebanyakan manusia
sekarang mereka begitu kerasnya mencari dunia dan lebih mencintai dunia,
padahal ketika kita mati yang kita bawa bukanlah harta dunia kita namun
bagaimana amal soleh kita didunnia.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Rasulullah pernah mengatakan “ Jadilah engkau didunia
seperti layaknya orang yang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat
saja” (HR. Bukhori) disini kita bisa lihat rasulullah mengingatkan kita untuk
menjadi orang yang jangan terlalu cinta akan dunia karena dunia ini hanya
sementara ada kehidupan lain setelah didunia ini yang jauh lebih kekal bagi
yang mengimani.
Rasulullah juga pernah berkata “ tidaklah dunia bila
dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang diantara kalian
mencelupkan jari telunjuk kalian kedalam lautan yang luas, kemudian kalian
angkat dan apa yang menetes dari ujung jari telunjuk itu adalah kenikmatan
dunia dan hamparan laut yang luas itu adalah kenikmatan di akhirat” (HR.Muslim)
jika kita mau merenungkan ayat ini maka aneh sekali ketika kita mau menjual
akhirat kita hanya untuk kenikmatan dunia yang sifatnya sementara apalagi
sampai menyepelekan akhirat naudzubillah min dzalik.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Bukan berarti kita tidak boleh mencari dunia, namun
jadikanlah dunia ini ibaratnya tempat kita mencari bekal untuk akhirat kita.
Selama ini paradigm orang sudah berubah ketika dulu Rasulullah SAW mengatakan
“carilah akhiratmu namun jangan lupakan duniamu karena ketika kita mencari
akhirat dunia akan mengikuti. Tapi sekarang menjadi carilah duniamu namun
jangan lupakan akhiratmu. Sehingga orang sekarang orientasi utamnaya adalah
dunia bukan akhirat.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Cinta dunialah yang memakmurkan neraka dengan dipenuhi para
pelakunya. Mabuk karena cinta dunia lebih berbahaya daripada mabuk karena
alcohol karena mabuk yang diakibatkan karena cinta dunia hanya akan tersadar
ketika ia dalam kegelapan kubur.
Yahya bin Muadz berkata, “ dunia itu anak setan. Barang
siapa mabuk karenanya niscaya tidak akan sadar sampai ia berada diantara
orang-orang yang sudah mati, menyesal bersama orang-orang yang merugi.
Paling tidak dunia itu akan melengahkan seseorang dari
berdzikir dan mengingat Allah sebagaiman dalam firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman , janganlah harta-hartamu dan
anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat
demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Al-Munafiqun [63] :
9)
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi semua orang dunia ini
adalah tamu, dan harta adalah pinjaman. Setiap tamu pasti akan pergi lagi dan
setiap pinjaman pasti harus dikembalikan.
Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah
Mungkin itu yang dapat saya sampaikan semoga kita menjadi
orang yang lebih baik lagi dalam menyikapi dunia ini. Apabila ada salahnya saya
mohon maaf dan itu murni dari diri saya dan apabila ada baiknya itu murni
datangnya dari Allah.terimaksih atas perhatiaanya.
Wassalamualaikum Vr.Wb







0 komentar:
Posting Komentar